Posted by: Winda Safitri | June 12, 2013

Niat

Dalam buku “31 sebab lemahnya iman”, sebab pertama adalah niat yang tidak ikhlas.

Mudah-mudahan bisa seperti kalimat terakhir Muhammad Nashiruddin al-Albani di kata pengantar bukunya

“..dan tidak menjadikan sesuatu pun karena seseorang padanya.”

niat

Posted by: Winda Safitri | June 11, 2013

هَـذِهِ سَبِيلِى

“TITIK MULA SEBUAH PERJALANAN”

Di suatu tempat yang sangat syahdu… di tempat yang sangat tinggi dan mulia… di atas lapisan langit-langit biru… di waktu itu dan di tempat itulah manusia pertama diciptakan. Diciptakan dari gumpalan tanah yang dibentuk dan disusun langsung oleh Pencipta Alam Semesta…Allah SWT. Sebelum gumpalan tanah itu menjadi makhluk hidup yang dimuliakan dan diberi nama Manusia… telah terjadi dialog sakral di alam yang sakral pula.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang kholifah di muka bumi. Merekapun (para malaikat) berkata: Mengapa Engkau menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau? (Allah) berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” [QS. Al-Baqarah (2) : 30]

Setelah itu diciptakanlah tubuh makhluk itu oleh kedua tangan Alloh sendiri dan ditiupkan padanya ruh dan seketika hiduplah tubuh itu menjadi seorang makhluk baru. Kemudian setelah Alloh mengajarkan ilmu kepada makhluk itu dan dibuktikan ketinggian ilmunya kepada para malaikat, maka diperintahkanlah para malaikat untuk bersujud kepada makhluk baru ini sebagai tanda penghormatan dan kemuliaan baginya dan ketundukan kepada penciptanya, maka sujudlah para makhluk yang suci itu.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“(Ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. Maka apabila telah Ku-sempurnakan kejadiannya dan Ku-tiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kalian bersujud kepadanya.” [QS. Shod (38) (38): 71-72].

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemuka-kannya kepada para malaikat seraya berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian memang benar orang-orang yang benar!. Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Alloh berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Alloh berfirman: Bukankah sudah Ku katakan kepada kalian, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian tampakkan dan apa yang kalian sembunyikan?”. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur maka jadilah ia dari golongan orang-orang yang kafir. [QS. al Baqoroh (2) : 31-34].

Akan tetapi di sana ada satu makhluk yang menolak untuk bersujud, menolak perintah dari Sang Pencipta. Apakah gerangan sebabnya..??

Sebabnya adalah kesombongan! Kesombongan atas makhluk baru ini karena merasa lebih tinggi dari padanya. Sombong pula ketika menganggap bahwa perintah Alloh tidak harus dilaksanakan tanpa disaring oleh akalnya terlebih dahulu. Dialah Iblis terkutuk! Makhluk yang setelah itu dilaknat sampai hari kiamat, dijauhi dari rahmat Alloh .

Alloh berfirman:
“(Ingatlah) ketika Robbmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku-sempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kalian bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan jadilah dia termasuk orang-orang yang kafir. Alloh berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah. Alloh berfirman: Keluarlah kau dari surga! Sesungguhnya kau adalah orang yang terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan. [QS. Shod (38) : 71-78]

Adapun Adam sang manusia pertama telah dirahmati Alloh dan dikaruniai seorang istri yang diciptakan dari tulang rusuknya sendiri. Mereka berdua dimuliakan Alloh dengan dimasukkan ke dalam surga yang indah, penuh kemudahan, tidak ada padanya kesusahan dan kesedihan, segalanya sangat menyenangkan sekali. Ketika itu Alloh pun berpesan kepada keduanya dengan pesan-pesan yang sangat mulia.

Alloh berfirman:
“Dan kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik kapan saja kalian kehendaki, dan janganlah kalian dekati pohon ini, kalau kalian dekati maka kalian akan menjadi orang-orang yang dzolim. [QS. al Baqoroh (2): 35]

“Maka kami berkata: Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi sengsara”. [QS. Thoha (20): 117]

Tetapi ternyata Adam dan istrinya tidak sanggup melaksanakan pesan-pesan itu, ketika setan yang sudah terlaknat itu berhasil menipu mereka dengan bujukan-bujukan laksana seorang penasehat yang setia.

“Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya keteguhan yang cukup“. [QS. Thoha (20): 115]

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa? [QS. Thoha (20): 120]

“Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mere-ka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Robbnya dan sesatlah ia. Kemu-dian Robbnya memilihnya dan menerima taubat-nya serta memberinya petunjuk”. [QS. Thoha (20): 121-122]

“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari aurat mereka dan setan berkata: Robb kalian tidak melarang kalian untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. Sesungguhnya saya adalah seorang penasehat bagi kalian berdua. Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah mencicipi buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-aurat mereka, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Robb mereka menyeru mereka: Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepada kalian: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?” [QS. al A’rof (7): 20-22]

Sebenarnya sebelum kejadian itu Setan pun telah mengucapkan ancaman-ancamannya terhadap Adam dan anak-cucu keturunannya.

Alloh berfirman:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus (Sirotulmustaqim).” [QS. al A’rof (7): 16]

“Iblis menjawab: (aku bersumpah) demi kejayaan Mu (demi Alloh), Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka. [QS. Shod (38): 82-83]

“Iblis berkata: Wahai Robbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, akan kujadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” [QS. al Hijr (15): 39]

“Dia (Iblis) berkata: Lihatlah orang yang Engkau muliakan atas diriku ini, Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya akan kusesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil. [QS. al Isro’ (17): 62]

Kedua jenis makhluk yang saling bermusuhan itu pun sama-sama terusir! Diturunkan ke bumi, tempat mereka menjalani kehidupan sampai datang kepada mereka kematian. Tetapi keadaan di antara keduanya sangat berbeda.  

Adam dan istrinya diturunkan setelah meraih ampunan dari Alloh dengan sebab taubat mereka yang mana taubat itupun Alloh lah yang mengajarkannya. Maka turunlah Adam ke bumi sebagai orang yang sudah disucikan dari dosa tersebut dan turun sebagai seorang nabi. Sedangkan Iblis yang sombong dan congkak, bukannya bertaubat ketika ditegur tetapi malah menyombongkan dirinya, menantang dan memprotes hukum serta perintah Alloh , maka iapun mendapatkan laknat (lawannya rahmat) sampai hari kiamat.

Alloh berfirman:
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Robbnya, Maka Alloh menerima taubatnya. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [QS. Al Baqoroh (2): 37]

“Kemudian Robbnya memilihnya dan menerima taubatnya serta memberinya petunjuk”. [QS. Thoha (20): 122]

“Alloh berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. Alloh berfirman: Turunlah Kau dari surga itu!! tidak sepatutnya kau menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah, sesungguhnya kau termasuk orang-orang yang hina. Iblis menjawab: Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan. Alloh berfirman: Baiklah! kamu termasuk mereka yang diberi tangguh. Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Alloh berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kalian semuanya.” [QS. al A’rof (7): 12-18]

A. Pesan di Gerbang Surga.

Di pelepasan kedua makhluk Alloh itu, Alloh pun memberi pesan terakhir sebelum mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya. Kehidupan yang penuh dengan liku-liku kesedihan dan kesulitan. Kehidupan yang penuh cobaan dan pertarungan di antara keduanya.

Alloh berfirman:
”Alloh berfirman: Turunlah kalian semua dari surga!!, sebagian kalian menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan akan Kami kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [QS. Thoha (20): 123-124]

“Kami berfirman: Turunlah kalian semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [QS. al Baqoroh (2): 38-39]

Turunlah Adam dan istrinya untuk menjalankan tugas yang memang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu: “Beribadah hanya kepada Alloh dengan menyandang jabatan sebagai Kholifah di muka bumi”.
Jadilah kehidupan surga yang pernah dikenyamnya sebagai perindu didalam fitrahnya dan fitrah keturunannya untuk merindukan kampung halaman asli mereka, surga yang abadi. Jadilah pula penipuan Iblis atasnya sebagai pelajaran baginya dan keturunannya.

Alloh berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian sampai ditipu oleh setan sebagaimana Ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat-aurat mereka. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian sedangkan kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman .” [QS. al A’rof (7): 27)]

B. Sebuah Ancaman Abadi

Dengan rasa berang karena dengki dan dendam kepada Adam serta ledakan kekufuran yang sangat dahsyat yang selama ini terpendam didalam lapisan bawah hatinya, Iblis pun berteriak: “Akan kududuki jalan-Mu yang lurus! Akan kucegah mereka untuk menitinya!!”.

Alloh berfirman:
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukumku tersesat!, Akan kuhalangi mereka dari jalan yang lurus (Sirotulmustaqim)!” [QS. al A’rof (7): 16]

Dia sudah bertekad untuk menghabiskan umurnya menjadi “Penjegal” Sirotulmustaqim dengan sekuat tenaganya mencegah dan mengecohkan anak-anak Adam dari memasuki Sirotulmustaqim.

Segala tipu muslihat dilakukannya. Dari membuat jalan-jalan alternatif yang terang-terangan memakai nama lain selain Islam, sampai pada ajaran-ajaran yang mengatasnamakan Islam dan ajaran-ajaran bid’ah. Dari agama-agama kesyirikan yang menyembah patung-patung, binatang ataupun matahari sampai kesyirikan-kesyirikan terselubung seperti sihir, istigotsah kepada selain Alloh , ruwatan dan lain-lain, sampai kepada memutarbalikkan ajaran Islam itu sendiri!!.

Demikian juga makanan-makanan dan minuman-minuman haram yang diganti namanya dengan nama-nama yang di indah-indahkan dan diekspose manfaat dustanya. Pintu-pintu maksiat diperluas dan dihiasi, ketakwaan dicela sampai-sampai peninggalannya menjadi salah satu sifat bijaksana atau syarat untuk menjadi manusia moderen yang beradab.  Semua itu dengan tujuan menggiring manusia ke pintu-pintu Jahannam.

Demikian pentingnya Sirotulmustaqim itu sampai Iblis siap menghabiskan seluruh umurnya untuk menyumbat Sirotulmustaqim di hadapan manusia.

Jadi apa gerangan Sirotulmustaqim itu?.

BAB II SIROTULMUSTAQIM (JALAN YANG LURUS)

Sirotulmustaqim adalah sebuah ungkapan atau istilah yang disebut dalam banyak ayat al-Qur’an al-Karim. Secara bahasa, sirot berarti jalan yang mudah dilalui, sedangkan arti dari mustaqim adalah yang lurus, serta tidak bengkok dan cacat.

Alloh menyebutkan sirotulmustaqim dalam banyak ayat al-Qur’an yang merupakan firman-Nya, dan Alloh pun menegaskan bahwa Dia Yang Maha Agung lagi Perkasa berada di atas sirotulmustaqim.
“…Sesungguhnya Robbku di atas sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. Hud (11): 56]

Alloh memberikan hidayah berupa sirotulmustaqim kepada Nabi-Nya, Muhammad .
“Katakanlah: ’Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Robbku sirotulmustaqim (jalan yang lurus), (yaitu) agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus, dan Ibrohim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” [QS. al-An’am (6): 161]

Kemudian Alloh memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar meminta petunjuk dan pertolongan untuk dapat meniti sirotulmustaqim, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fatihah:
“Tunjukilah kami sirotulmustaqim (jalan yang lurus), (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” [QS. al-Fatihah (1): 6-7]

Alloh juga memerintahkan kita untuk mengikuti sirotulmustaqim, sebagaimana firman-Nya:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah sirotulmustaqim (jalan-Ku yang lurus), maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah wasiat Alloh kepada kalian agar kalian bertakwa.” [QS. al-An’am (6): 153]

Para ulama telah banyak membahas dan menjelaskan tentang makna sirotulmustaqim. Ibnu Katsir menukil atsar (perkataan) para sahabat dan tabi’in ketika menjelaskan sirotulmustaqim. Di antara mereka ada yang menyatakan bahwa sirotulmustaqim adalah Islam, ada yang menyatakan sirotulmustaqim adalah al-haqq (kebenaran), lainnya lagi berkata bahwa sirotulmustaqim adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan ‘Umar .

Kemudian Ibnu Katsir berkata:

“Semua pendapat tersebut di atas adalah benar, bahkan saling melengkapi. Karena setiap yang mengikuti Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya berarti telah mengikuti kebenaran, dan barangsiapa yang mengikuti kebenaran maka ia telah mengikuti Islam, dan barangsiapa yang mengikuti Islam berarti ia telah mengikuti al-Qur’an, yaitu kitabulloh yang teguh dan jalan-Nya yang lurus.”

Beberapa pendapat yang dinukil dari para ulama salaf di atas menunjukkan dan membuktikan keluasan ilmu mereka. Mereka mengetahui bahwa sirotulmustaqim berikut berbagai realisasi dan konsekuensinya adalah dengan mengikuti Islam secara kaffah (totalitas), baik secara global maupun terperinci. Islam kaffah adalah kebenaran dan kebenaran datangnya dari al-Qur’an. Dan sebaik-baik orang yang mengamalkan dan merealisasikan apa yang terdapat dalam al-Qur’an adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabatnya. Oleh karena itu, Rosululloh bersabda :

(( وَاقْتَدُوْا بِالَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ ))

“Ikutilah dua orang sepeninggalku; Abu Bakar dan ‘Umar.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Alloh kecuali dengan jalan tersebut, bahkan semua jalan tertutup bagi seluruh hamba kecuali jalan-Nya yang telah Ia jelaskan melalui lisan para rosul-Nya, dan yang Ia telah jadikan sebagai sarana yang dapat menghubungkan kepada-Nya. Dan memang hanya Alloh sajalah yang dapat memberikan petunjuk kepada sirotulmustaqim tersebut.

“…Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. al-Baqoroh (2): 213]

Sirotulmustaqim berarti mengesakan Alloh dalam beribadah dan mengikuti Rosululloh, Muhammad dalam beribadah kepada-Nya. Tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatupun dalam beribadah kepada-Nya, juga tidak menyekutukan Rosululloh dengan siapapun dalam ”pengikutan”. Memurnikan tauhidulloh dan memurnikan ittiba’ (mengikuti) Rosululloh adalah menempuh sirotulmustaqim.

Jadi sirotulmustaqim adalah beribadah hanya kepada Alloh semata, dengan tidak menyekutukan-Nya, serta ittiba’ secara total kepada Muhammad , yang merupakan realisasi dari syahadatain (dua kalimat syahadat); bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Alloh dan bersaksi bahwa Muhammad adalah rosul (utusan)-Nya. Keduanya, tauhid dan ittiba’ adalah dasar dan landasan Islam yang paling utama.

Di ayat 161 surat al-An’am yang tadi kita paparkan, Alloh menjelaskan bahwa sirotulmustaqim adalah “agama yang benar, agama Ibrohim yang lurus.” Agama itu adalah Islam. Jadi sirotulmustaqim adalah Islam.

Sebagai pendukung apa yang telah dikemukakan di atas, Ibnul Qoyyim berkata:

“Ungkapan yang bersifat menyeluruh tentang sirotulmustaqim, bahwa ia (sirotulmustaqim) adalah jalan yang dipancangkan Alloh untuk para hamba-Nya yang dapat menghubungkan kepada-Nya melalui lisan para rosul-Nya. Tidak ada jalan lain untuk sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan tersebut, yaitu mengesakan-Nya dalam beribadah dan mengesakan para rosul-Nya dalam ketaatan. Dan hal ini merupakan kandungan utama dari syahadat La Ilaha Illalloh dan syahadat Anna Muham-madan ‘Abduhu wa Rosuluhu.

Kesimpulannya, yaitu engkau mencintainya dengan sepenuh hati dan meridoi-nya dengan segenap upaya, sehingga dalam hatimu tidak ada hal lain selain dipenuhi kecintaan kepadanya, dan tidak ada sedikitpun kehendak atau upayamu kecuali untuk menggapai keridoannya.

Hal ini tiada lain adalah al-haqq (kebenaran), yaitu dengan mengenal dan mengamalkannya (kebenaran) serta dengan mengetahui agama yang dibawa oleh para rosul utusan Alloh dan menjalankannya dengan konsekuen.”

BAB III HIDAYAH MENUJU SIROTULMUSTAQIM

Karena demikian pentingnya hidayah (petunjuk) yang menuntun kita untuk menuju dan meniti sirotulmustaqim, maka diwajibkan atas kita untuk memohonnya dari Alloh dalam setiap solat kita, yaitu ketika membaca ayat keenam dari surat al-Fatihah:  “Tunjukilah kami sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. al-Fatihah (1): 6]

Akan tetapi, ketika arti sirotulmustaqim adalah Islam itu sendiri, mengapa kita yang sudah menjadi orang-orang Islam, masih saja diperintahkan untuk terus memohon sirotulmustaqim, bahkan sampai akhir hidup kita? Bukankah kita telah mendapatkannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menyimak hal-hal berikut:

A. Arti “Hidayah”
Dalam ayat-ayat al-Qur’an, hidayah mempunyai dua arti atau dua sisi dari satu arti. Yaitu:

1. Hidayah dalam arti “ilmu”.
Pada hakikatnya substansi kata-kata hidayah adalah “ilmu”. Yaitu ilmu yang benar yang menuntun seseorang menuju sirotulmustaqim dan memandunya untuk meniti jalan tersebut.  Ilmu ini berasal dari Alloh dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalui para rosul-Nya. Kemudian disebarkan kepada seluruh umat manusia oleh para pewaris kenabian, yaitu para ’ulama, bahkan siapa saja yang memiliki bagian dari ilmu yang dibawa oleh para nabi, mampu “memberikan” hidayah ini, sebatas ilmu yang mereka miliki.

Jadi hidayah dalam arti ilmu bisa dituntut dari para rosul, para ’ulama dan siapa saja yang memilikinya.
Ilmu yang dimaksud adalah ”ilmu tentang apa-apa yang harus kita percayai dan kita amalkan, serta apa-apa yang harus kita ingkari dan kita tinggalkan untuk mendapat keridoan Alloh ”. Hidayah seperti ini dinamakan pula hidayah dilalah. Tetapi pemberian hidayah ini oleh mereka yang memilikinya hanya sampai pada tahap “penyampaian” saja.

”Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk (hidayah) kepada sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. asy-Syuro (42): 52] Hidayah yang dimaksud dalam ayat tersebut di atas adalah hidayah dilalah.

2. Sisi atau arti lain dari “hidayah” dinamakan “taufîq”
Hidayah ini disebut juga dengan nama hidayah taufiqiyah. Hidayah taufiqiyah adalah tuntunan Alloh atas hati kita dan pertolongan-Nya yang menjadikan kita menginginkan, mengetahui dan akhirnya mampu meniti sirotulmustaqim. Tanpa hidayah ini, maka hidayatul ‘ilmiyah atau hidayah dilalah, tidak ada gunanya sama sekali.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS. al-Qoshosh (28): 56] Yang dimaksud hidayah dalam ayat di atas adalah hidayah taufiqiyah yang hanya Alloh sajalah yang bisa memberikannya.

“Hidayah ini dimulai dari berimannya seseorang”, kemudian mencakup:
a. Kemauan dan kemampuan untuk belajar ilmu yang benar.
b. Mendapatkan guru atau sumber untuk belajar ilmu yang benar.
c. Mempelajari ilmu tersebut.
d. Memahami apa yang dipelajari.
e. Menerima apa yang telah dipahami.
f. Menerapkan dan mengamalkan apa-apa yang diterima.
g. Keikhlasan untuk meniti semua hal tersebut di atas.
h. Ittiba’ (pengikutan) kepada Rosululloh dalam pemahaman dan pengamalan.

Dikarenakan ajaran-ajaran Islam terlalu luas dan trik-trik atau tipu daya penyesatan dari setan pun terlalu banyak, maka jika kita menghendaki agar kita selalu berada dalam keislaman dan tetap dapat mempertahankan prestasi-prestasi keislaman (kebaikan atau amal perbuatan taat) yang sudah kita miliki, juga bila kita ingin selamat dari trik-trik penyesatan tersebut di setiap waktu, maka kita pun membutuhkan hidayah dengan kedua sisi dan seluruh cakupannya seumur hidup kita, di setiap waktu pula.  Dengan demikian jelaslah mengapa kita harus selalu memohon dan berusaha untuk mendapatkan hidayah menuju sirotulmustaqim secara terus menerus.

B. Cara Mendapatkan Hidayah Menuju Sirotulmustaqim

1. Memohon kedua sisi hidayah tersebut dari yang memilikinya secara mutlak
Kita harus terus menerus memohon hidayah kepada Alloh , baik dalam solat maupun di luar solat, karena hanya Dia-lah yang sanggup memberikannya kepada kita dalam bentuk yang sempurna dan berguna.

“…Dan Alloh memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke sirotulmustaqim (jalan yang lurus).” [QS. al-Baqoroh (2): 213]

Dalam hadits qudsi, Alloh berfirman:
(( يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ ))
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Aku beri hidayah (petunjuk), maka hendaklah kalian meminta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim)

2. Belajar dan beramal
Setiap orang yang bermujahadah (bersungguh-sungguh) diri untuk mempelajari ilmu yang diberikan Alloh kepada para rosul-Nya dengan ikhlas dan mengamalkan apa-apa yang dipelajarinya, maka akan dibukakan untuknya pintu-pintu ilmu yang belum diketahuinya. Ketika mengamalkan ilmu baru tersebut, maka diberikan lagi baginya ilmu-ilmu yang belum pernah diketahuinya, demikian seterusnya.

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [QS. al-‘Ankabut (29): 69]

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir berkata:
(( اَلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ بِمَا يَعْلَمُوْنَ يَهْدِيْهِمُ اللهُ لِمَا لاَ يَعْلَمُوْنَ ))
“Yaitu orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, maka Alloh akan menunjuki mereka ilmu-ilmu yang belum mereka ketahui.”

3. Bertakwa kepada Alloh
Selama seorang muslim memegang teguh perintah Alloh dan mentaati-Nya serta menjauhi dan menghindari larangan-Nya, selama itu pula Alloh akan memberi hidayah kepada hatinya, dan menganugerahinya cahaya yang akan meneranginya saat ia berjalan dalam kegelapan.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rosul), bertakwalah kepada Alloh dan berimanlah kepada Rosul-Nya, niscaya Alloh memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hadid (57): 28]

“Hai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqon dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan kalian dan mengampuni (dosa-dosa) kalian. Dan Alloh mempunyai karunia yang besar.” [QS. al-Anfal (8): 29]

Catatan:
Furqon adalah kemampuan untuk mengenal dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan ini adalah inti dari hidayah.

Ibnu Katsir berkata:
(( فُرْقَانًا: فَصْلاً بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ ))
“Furqon adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan.”

as-Sa’di berkata:
(( اَلْفُرْقَانُ: وَهُوَ الْعِلْمُ وَالْهُدَى الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ صَاحِبُهُ بَيْنَ الْهُدَى وَالضَّلاَلِ، وَالْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ، وَأَهْلِ السَّعَادَةِ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ))
“Furqon adalah ilmu dan hidayah yang dengan keduanya pemiliknya dapat membedakan antara hidayah dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, yang halal dan haram, serta antara peniti jalan kebahagiaan dengan jalan keseng-saraan.”

Kita masuk ke- BAB IV “YANG BENAR HANYA ISLAM..!!”

Untuk beribadah kepada Alloh dan untuk mencapai keridoan-Nya, Alloh hanya menurunkan satu agama kepada hamba-hamba-Nya, sejak awal penciptaan manusia hingga hari kiamat kelak, yaitu agama Islam. Seluruh nabi, dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad , hanya membawa dan mendakwahkan agama Islam. Itulah sirotulmustaqim.

“Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Alloh hanyalah Islam.” [QS. Ali ‘Imron (3): 19]

Inti agama Islam adalah “berserah diri secara total kepada Alloh , mengesakan-Nya, mengagungkan-Nya dan mencintai-Nya dengan mengikuti wahyu dan syariat-Nya”. Hakikat sesuatu yang diajarkan oleh Islam tidak akan pernah berubah, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad dan hingga hari kiamat. Adapun syariat yang diturunkan Alloh , yaitu cara beribadah, tempat dan kadar peribadatan serta peraturan kemasyarakatan, bahkan hukum halal dan haram, masih bisa berbeda antara satu rosul dengan yang lainnya. Oleh karena itu, walaupun berbeda dalam syariat di beberapa bagian detail atau rinciannya (mayoritas syari’at global sama saja), namun aqidah para nabi dan ajaran mereka adalah sama, yaitu Islam.

Nabi Musa adalah nabi Islam, beragama Islam dan mendakwahkan Islam serta para pengikutnya adalah orang-orang Islam, bukan orang-orang Yahudi. Sedangkan agama Yahudi adalah agama batil yang dianut oleh orang-orang yang menyelisihi ajaran yang dibawa oleh Nabi Musa .
“Musa Berkata: ‘Wahai kaum, jika kalian beriman kepada Alloh, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kalian benar-benar orang-orang islam (muslimin).” [QS. Yunus (10): 84]

Demikian pula halnya dengan Nabi Isa dan para pengikutnya yang setia, mereka adalah kaum muslimin sedangkan para penyelisihnya yang dinamakan umat Kristiani dengan agama mereka (Kristen), mereka adalah kaum musyrikin.

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail), ia berkata: ‘Siapakah yang siap menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Alloh?’, para hawariyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Alloh, kami beriman kepada Alloh; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam.” [QS. Ali ‘Imron (3): 52]

“Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada rosul-Ku’. Mereka menjawab: ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rosul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam (muslimun).” [QS. al-Ma’idah (5): 111]

Pada waktu yang sama, Alloh menolak semua agama selain Islam, walaupun bertujuan atau ditujukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya.

“Barangsiapa menganut agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imron (3): 85]

“…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama kalian….” [QS. al-Ma’idah (5): 3]

BAB V “PENYELISIHAN SIROTULMUSTAQIM”

Alloh telah memancangkan suatu jalan yang lurus menuju kepada-Nya. Namun hanya ada satu jalan! Siapa yang menitinya sampai akhir, maka dia akan selamat dan mendapatkan kehidupan yang baik ketika di dunia, dan menda-patkan kebahagiaan dan kenikmatan abadi tiada tara di akhirat nanti.

Jalan itu adalah sirotulmustaqim..!!

Jalan itu adalah Islam..!!

Untuk mengelabui manusia dan mengecohkan mereka agar tidak memilih sirotulmustaqim (Islam), setan pun membuat jalan-jalan lain di sekeliling Islam, yang merupakan agama-agama dan manhaj-manhaj sesat, baik klasik maupun kontemporer. Agama-agama, aliran-aliran dan manhaj-manhaj sesat tersebut disediakan setan sebagai wadah spiritual dan sospol alternatif untuk menampung mereka yang tersesatkan dari sirotulmustaqim dan tidak memasukinya, atau untuk mereka yang belum mendapatkan da’wah sirotulmustaqim.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللَّهِ خَطًّا ثُمَّ قَالَ: (( هَذَا سَبِيْلُ اللَّهِ ))، ثُمَّ خَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: (( هَذِهِ سُبُلٌ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيْلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ: وأنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ))

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud , ia berkata bahwa suatu saat Rosululloh menggaris suatu garis lurus kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Alloh’, kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan, di setiap jalan ini ada setan yang menyeru kepadanya!’, kemudian beliau membaca ayat: ‘Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan jangan kalian ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya akan menyimpangkan kalian dari jalan-Nya.” QS. al-An’am (6): 153.” (HR. Bukhori, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi)

Di sini jelas sekali digambarkan bahwa setan menyeru kepada jalan-jalan alternatif, yang tidak diragukan lagi akan menuntun penitinya ke pintu-pintu Jahannam. Na’udzu billah!

Untuk mengeluarkan mereka yang sudah meniti sirotulmustaqim, setan pun membuat ajaran-ajaran dan aliran-aliran yang mencampuradukkan antara kebenaran Islam dengan kebatilan. Jalan-jalan ini menempel ke jalan sirotulmustaqim, hingga seakan-akan merupakan cabang-cabangnya. Sehingga orang yang berjalan di atasnya akan berpijak dengan satu kakinya di dalam Islam dan kaki satunya lagi berada di luar Islam, atau bisa jadi keduanya di luar Islam.

Ditinjau dari bagaimana posisi kakinya yang di dalam Islam dan bagaimana yang di luar Islam, mereka terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Mereka yang sudah keluar dari Islam (murtad).
2. Mereka yang belum keluar dari Islam (ahlul bid’ah).

Jalan-jalan itu adalah produk bersama antara hawa nafsu manusia dan kejahilannya dengan “bimbingan” setan. Jalan-jalan itu menerobos dan melanggar batas-batas yang sudah ditentukan Alloh baik di dalam bidang pemikiran maupun di bidang amal perbuatan.

Rosululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ضَرَبَ اللهُ تَعَالَى مَثَلاً صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا وَعَلَى جَنْبَتَيِ الصِّرَاطِ سُوْرَانِ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى اْلأَبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَعْوَجُّوْا، وَدَاعٍ يَدْعُوْ مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ اْلإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ اْلأَبْوَابِ قَالَ: وَيْحَكَ لاَ تَفْتَحْهُ، إِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، فَالصِّرَاطُ اْلإِسْلاَمُ، وَالسُّوْرَانِ حُدُوْدُ اللهِ تَعَالَى، وَاْلأَبْوَابُ المُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللهِ تَعَالَى، وَذَلِكَ الدَّاعِي كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ ))

“Alloh mengumpamakan sirotulmustaqim sebagai sebuah jalan yang di samping kanan dan kirinya terdapat pagar, pada masing-masing pagar terdapat pintu-pintu yang terbuka, pada pintu-pintu itu terdapat tirai yang terurai. Di pangkal sirot ada penyeru yang mengatakan: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke dalam sirot dan jangan membelok!’. (Di samping itu) ada pula penyeru (lain) dari atas sirot yang jika seseorang ingin membuka sesuatu dari pintu-pintu tersebut ia berkata: ‘Celaka kamu, jangan engkau buka pintu itu, jika engkau membukanya, maka engkau akan masuk ke dalamnya!’.

Sirot tersebut adalah Islam, dua pagar adalah hudud (larangan atau batasan) Alloh, dan pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan Alloh, adapun yang menyeru di pangkal sirot adalah penyeru Kitabulloh, dan penyeru dari atas sirot adalah peringatan Alloh yang ada pada hati setiap muslim.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Hakim)

Jadi (al-Qur’an) adalah yang menyeru manusia untuk meniti sirotulmustaqim (masuk Islam) setelah ia menapakinya. Alloh memberikan kepada setiap orang wa’iz (pemberi peringatan) di dalam hatinya, sebesar kadar ketakwaannya. Setiap orang yang ingin melanggar hudud (larangan-larangan atau batasan-batasan) Alloh, maka “pemberi peringatan” tersebut akan memperingatkannya. Siapa yang mentaatinya ia akan selamat, dan setiap orang yang menolak peringatannya serta terus melanggarnya, dia akan terjebak ke dalam bahaya yang mengancam.

Kalau pelanggarannya sampai mengeluarkan dirinya dari Islam, maka dia menjadi seorang kafir. Kalau pelanggarannya belum mengeluarkannya dari Islam, seperti kebid’ahan dan kemaksiatan (pengabaian perintah atau pelanggaran larangan), maka akan tetap berstatus muslim dengan menyandang noda-noda kesalahan yang kelak ketika ia menyeberangi jembatan di atas Jahannam akan berupa luka-luka dikarenakan pukulan jangkar-jangkar yang mungkin saja akan menjatuhkannya ke neraka. Kecuali kalau ia mendapat ampunan dari Alloh , baik dengan sebab taubatnya di dunia maupun tanpa taubat, yaitu karena pahala-pahala amalannya atau semata-mata karena rahmat Alloh saja.

Bersambung…

Sumber: ALPI “Aliansi Pagar Islam” http://www.facebook.com/pages/ALPI-Aliansi-Pagar-Islam/296072213862352?ref=ts&fref=ts

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Istri Sholihah

Renungan SIFAT-SIFAT ISTRI SOLIHAH:
ومجمل صفات الزوجة الصالحة ما يلي :
1- مطيعة لله .
2- مطيعة لزوجها فيما لا يسخط الله .
3- تسر زوجها إذا نظر إليها
4- تعين زوجها على طاعة الله .
5- لا توطىء فراشه أحدا
6- لا تبدي زينتها إلا لزوجها .
7- تكتم سر زوجها .
8- صابرة على زوجها ، قانعة باليسير منه .
9- إن غاب عنها زوجها حفظته في نفسها وماله .
10- إن حضر أمسكت لسانها عن أذيته .
11- لا تكثر السب والشتم والشكوى .
12- لا تجحد نعم زوجها عليها إن أساء إليها

Sifat-sifat Istri Solihah:
1. Ta`at kepada Alloh
2. Ta`at kepada suaminya tentang semua hal yang tidak dimurkai Alloh
3. Menyenangkan suami saat dipandang
4. Mendukung suami dalam keta`atan kepada Alloh
5. Tidak mengkhianati suaminya di tempat tidurnya
6. Tidak menampakkan keindahan dan perhiasannya kecuali untuk suaminya
7. Menjaga rahasia suaminya
8. Sabar terhadap suaminya dan qona`ah sedikit apapun yang diberikan suaminya
9. Jika suaminya pergi, dia menjaga diri dan harta suaminya
10. Jika suaminya ada, dia selalu juga lisannya dari hal-hal yang tidak menyenangkan suaminya
11. Tidak banyak mencela, menghina atau mengeluh
12. Tidak mengingkari jasa suaminya, sekalipun suaminya buruk perlakuannya

dari status FB DR.Muhammad Sarbini, MHI

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Seorang wanita adalah perbendaharaan terbaik yang dimiliki manusia, jika dia dijaga, dibina dan dipelihara, niscaya menjadi permata jiwa dan surga. Tetapi, jika dia diabaikan, disia-siakan bahkan dihinakan, niscaya dia akan menjadi ular berbisa di jiwa dan neraka.

Ibu dan guru itulah manusia yang paling berperan dalam menjaga, membina dan memelihara permata-permata jiwa. Dengan demikian, Ibu dan guru harus menjadi ahli permata jiwa sebelum mereka melaksanakan kewajibannya.

Seorang guru wanita harus melahirkan generasi-generasi Ibu permata jiwa, bukan wanita pekerja atau ular berbisa bermuka ibu rumah tangga. Karena, jika peran ibu mampu membangun kebahagiaan rumah tangga, maka akan membentuk kebahagiaan Bangsa dan Negara. Tetapi, jika peran ibu menjadi pekerja atau ular berbisa penebar racun di rumah tangga, maka hancurlah sehebat apapun sebuah Negara atau Bangsa.

Realita pendidikan di Negeri kita tercinta saat ini memilki saham yang cukup besar dalam memarginalkan Ibu-ibu permata jiwa, berakhlak mulia dan cinta agama. Ditambah oleh banyak sarana informasi dan edukasi yang menyempurnakan saham kehancuran ini. Ibu kini menjadi karyawati-karyawati sejati di pabrik-pabrik bermesin canggih, pembenci sangkar rumah yang begitu suci, atau malah menjadi ibu dari anak-anak yang diharapkan cepat mati karena sangat tidak ingin dibebani atau ibu yang menjadi ulat yang setiap hari menggerogoti jiwa tentram seorang suami. Akankah ini terus akan terjadi menanti kehancuran dari Negeri tercinta ini?

Tentu sebagai seorang yang beriman kita sama sekali tak berharap itu terjadi. Kita semua harus bahu membahu menyelamatkan keterpurukan ini untuk menuju kebangkitan sejati. Membentuk dan membina para guru wanita sholihah yang akan menjadi permata jiwa adalah salah satu langkah penting untuk memulai usaha ini. Guru wanita harus faqih terhadap agama, berakhlak mulia dan sosok teladan permata jiwa. Dari jurusan manapun mereka berasal, IPA atau IPS semua harus mulai menata diri dan pribadi. Karena, hanya dengan agama, akhlak mulia dan pribadi permata keselamatan diri kita dan para peserta didik di tangan kita akan menjadi manusia-manusia yang sesungguhnya. Manusia abdi Alloh yang melahirkan keberkahan langit dan bumi serta manusia yang terbimbing sampai kematiannya untuk menuju surga

-DR. Muhammad Sarbini M.HI.

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Surat Terbuka untuk Anakku

Untuk Anakku tercinta: Hafizhah, ‘Alimah, Da’iyah kami…

Assalamu’alaikum…

Ummi senang Mbak sudah betah dan bisa beradaptasi di pesantren. That’s great, My Dear. Mudah-mudahan juga sudah dan selalu meluruskan niat ya Nak?
Bukan terpaksa karena Ummi&Abi, melainkan karena Alloh. Karena Mbak sudah faham keutamaannya menjadi seorang hafizhah.

Harus Mbak ketahui, bahwa sesungguhnya berat bagi Ummi&Abi untuk melepas dan berpisah dengan Mbak. Apalagi buat Ummi. Ummi kehilangan asisten yang handal dan terpercaya di rumah. Itu juga kenapa Abi  tidak ingin yang terlalu jauh dari rumah, supaya ada kemudahan untuk menjenguk.

Namun demikian, meski rasanya berat, kami kuatkan hati untuk kirim Mbak  sekolah di pesantren. Mengapa??

Anakku sayang…Kita lihat di TV bagaimana orang-orang(para orang tua beserta anak-anaknya)rela antri berjam-jam, kepanasan, kehujanan, mungkin juga menahan lapar…demi ikut audisi Talent Show dan semacamnya. Belum lagi modal yang cukup besar untuk penginapan, transportasi, make up, kostum,dll. Para orang tua sampai tidak masuk kerja karena mengantar anaknya, anak-anak izin dari sekolah..sampai yang berhenti sekolah/bekerja untuk itupun ada. Mbak pernah bertanya kepada Ummi saat kita menonton acara itu. “Ummi, si A ini bukannya masih sekolah?terus kalau harus masuk karantina, bagaimana sekolahnya?”

Anakku, mereka dengan sukarela melakukan itu semua, karena adanya harapan yang besar : dengan menjadi artis, akan punya masa depan yang lebih baik. Hidup enak, terkenal, banyak uang. Itu mimpi mereka, Nak.

Mereka tidak menyadari itu semua semu. Mbak tahu kan, fatamorgana?Biasanya di padang pasir yang tandus seolah terlihat ada cekungan berisi air bening. Sangat menggiurkan bagi orang yang kehausan. Padahal itu tidak nyata. Saat didekati air itu tidak ada. Kalau tidak segera sadar dan waspada,salah-salah pasir itu yang dihirup dan kemudian mati tercekik.

Gadis kecilku, seperti itulah dunia yang membuat kebanyakan manusia terpesona dan kemudian berlomba-lomba mendapatkannya. Mereka tertipu.

Alhamdulillah Alloh masih memberi kita taufik dan hidayah-Nya, sehingga menyadari bahwa kehidupan kita yang nyata dan sebenarnya adalah akhirat. Dunia ini dijadikan tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat nanti. Bisa bayangin kan? 1 hari akhirat = 1000 tahun di dunia.

Itulah sebabnya, sayangku…Ummi&Abi merelakan diri berpisah dengan anak yang disayangi, berusaha sekuat tenaga mencari lingkungan, pendidikan dan rezeki yang halal demi Mbak dan adik-adik.
Karena Ummi&Abi ingin kita semua nanti bisa kumpul lagi di akhirat. Di surga-Nya Alloh (aamiin). Tempat di mana semuanya kekal. Gak ada sakit, sedih. Cuma ada senang dan bahagia…

Keutamaan seorang hafizh Qur’an…Mbak masih ingat, kan?

Kelak kedua orang tuanya akan dipakaikan jubah(mahkota?)kemuliaan. Bisa memberi syafaat kepada 10 orang ahli keluarganya. Dan yang paling utama bagi kami adalah karena seorang yang di dadanya ‘tersimpan’ Al Qur’an, maka api neraka tidak akan menyentuhnya. Subhanalloh.

Berusahalah menjadi “Al Qur’an berjalan”, seperti Rasululloh. Jadi bukan sekedar menghafal, melainkan juga memahami…kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ummi nggak bisa melarang Mbak untuk main dengan teman-teman, bergaul, baca komik/novel, majalah remaja, jadi salah satu penyuka artis-artis korea yang lagi ngetop. Ummi mengerti ini salah satu fase yang sedang Mbak lalui.                                                                                                                                            Nanti, beberapa tahun lagi, bisa jadi Mbak akan berubah pandangan dan melihat betapa Shinee…Suju…dll…menjadi tidak menarik lagi..:)

Satu hal yang Ummi ingin Mbak selalu ingat. Kapanpun…di manapun…tak ada tempat yang tidak kelihatan sama Alloh. DIA Maha Melihat…

Ummi&Abi merasa Mbak sudah cukup bisa menjaga diri. Sudah cukup mampu membedakan mana yang salah mana yang benar menurut agama. Mana yang bisa diikuti, mana yang tidak.

Jangan mau cuma jadi pengikut,ya Nak? Kalau orang-orang/teman-teman berbuat baik,ikutan baik. Kalau mereka tidak baik, ikutan tidak baik juga. Jangan begitu, ya Sayang?
Jadilah panutan di manapun berada. Jadi panutan itu bukan berarti harus jadi orang yang sempurna dan tidak pernah salah. Jika terlanjur melakukan kesalahan, harus berani mengakui, lalu memperbaikinya.                                 Belajar dan berlatih untuk selalu berani menyampaikan kebenaran. Itu harus.

Kelak di akhirat nanti semua orang harus bertanggungjawab atas diri masing-masing. Ummi, Abi, Eyang, Tante, Om…semua saudara…tidak akan mampu membela.

Ok, surat ini akan Ummi sudahi. Masih ada pekerjaan Ummi yang belum selesai hari ini.

Baik-baik di sana,ya Nak?Tidak usah ditiru akhlak teman-teman yang kurang baik. Amalkan adab-adab serta ilmu yang sudah dipelajari sebelumnya.     Hormat dan takzim kepada para guru/ustadzah . Betapapun culun, konyol dan judesnya mereka. Karena mereka itulah salah satu ‘gerbang’ ilmu.

Mbak boleh perlihatkan surat ini ke teman-teman(barangkali sebagian orang tuanya tidak sempat menjelaskan…atau karena memang tidak semua orang tua bisa menyampaikan isi hatinya dengan baik kepada anak-anaknya). Karena Ummi sungguh ingin sekali anak-anak bisa mengerti harapan, niat dan tujuan mengapa mereka sekolah di pesantren tahfizh.                                                                    Bukan sekedar menuruti keinginan orang tua, bukan ‘dibuang’ karena orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ingin direpotkan oleh anak, bukan juga karena tidak diterima di sekolah favorit.

Semangatnya harus beda…

Seperti yang berulang-ulang Abi sampaikan. Boleh jadi dokter…dokter yang hafizh Qur’an. Jadi insinyur yang hafizh Qur’an…jadi guru..chef…atau apa saja cita-cita yang baik&mulia..asalkan diniatkan karena Alloh.

Menghafal Qur’an itu terbukti mempertajam ingatan dan mempertinggi kecerdasan. Jadi jangan takut ketinggan pelajaran karena banyak menghafal. Asalkan bisa mengatur waktu dengan baik..kapan harus istirahat..kapan belajar..kapan bermain, ngobrol..InsyaAlloh bisa kok.

Jadi kalau ada yang merasa sumpek karena harus menghafal sekian ayat per hari (selain pelajaran sekolah), niatnya diluruskan lagi deh…:)

Cinta dan doa Ummi-Abi selalu untukmu, Anakku Sayang…

Meski tidak tinggal bersama orang tua, Ummi&Abi yakin Alloh akan selalu menjaga Mbak di manapun berada…

(Sent to My daughter on September 4, 2012)

 

http://astralarasati.wordpress.com/2012/09/04/surat-terbuka-untuk-anakku/

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Pesan untuk Putri Tercinta

Mutiara Syair Radio Fajri 99.3 FM
http://www.fajrifm.com

Kusayang kau sejak kau sesosok bayi
Kujaga dikau sepenuh hati
Mataku tak terpejamkan jika kau tersakiti
Tangisan manjamu seakan senandung burung kenari
Tawa mungil bibirmu di hatiku bagaikan nyanyian bidadari
Setiap gerakmu di mataku adalah tari

Putri tersayang
Lebih dari dua windu kau kutimang
Lebih dari itu kau kusayang
Kusayang dikau malam dan siang

Kini kau telah dewasa
Telah tiba saatnya kulepas dikau di danau dunia
Bak seekor angsa indah jelita
Meluncur di danau permata
Bersih raga dan jiwa

Malam ini kau akan meninggalkan rumah kita
Dimana kau kucinta sepenuh jiwa
Tiba saatnya kau meninggalkan ayah dan bunda
Suka dan duka menyatu di dalam sukma

Rumah ini akan sunyi bagai tak bernyawa
Setelah ditinggal putri tercinta
Tapi malam ini adalah malam bahagia
Malam kau bermandi cahaya

Jika larut malam telah tiba, aku akan mencarimu
Mencarimu di belakang pintu, tempat kau bersembunyi selalu
Sambil merangkul bonekamu yang lucu
Ketika kita bermain cari mencari dulu
Di masa balita yang biru

Aku yakin kini kau takkan kudapat di situ
Tapi tetap akan kucari kau dibalik pintu
Saatnya aku kan tertawa hampa
Meneteskan air mata bahagia pahit terasa
Tapi sudah kodrat Yang Maha Esa
Kau harus memulai hidup berumah tangga
Dengan ksatria belahan jiwa

Ya, putri tercinta
Dia telah datang mengetuk pintu
Meminta ijinku tuk menjemputmu
Menjabat tanganmu dan menuntunmu
Menuruti aturan cipta Sang Maha Pencipta
Sesuai sunnah Rosul-Nya

Bergandeng tangan meniti pematang hidup berdua
Bersama menerjang badai
Bersama pula menikmati sepoinya angin mempesona

Pesanku putri tercinta
Jadilah kalian seiya sekata
Jadilah kau selalu bayang-bayangnya
Taatilah dia lebih dari ayah dan bunda
Cintai dia lebih dari saudara
Jadilah pembelanya yang setia
Besarkan hatinya
Jangan sampai kecewa

Sayangi dia
Hormati dia
Hormati orang tuanya
Jangan sakiti mereka
Agungkan dia
Jangan kau bantah kata-katanya
Jangan bermasam muka di hadapannya
Jangan kau balas marahnya dengan murka

Berserilah wajahmu selalu untuknya
Kembangkan senyummu ketika memandang wajahnya
Berharum-harumlah selalu bila kau di sisinya
Lembutkan kata-kata
Mesrakan pandangan mata

Temani dia selalu di waktu senggangnya
Jangan biarkan dia bersunyi seorang diri
Jaga hartanya
Pendekkan lirikan matamu hanya padanya
Putuskan khayalmu dari selain dia
Dan katakan kau cinta padanya

Ulangi itu dari masa ke masa
Jaga kehormatannya
Kau tahu apa arti kehormatannya
Kau tahu itu putri tercinta
Kau telah lama kutempa
Menjadi muslimah yang utama

Jangan kau khianati kehormatannya
Seluruhmu adalah kehormatannya
Celakalah kau bila kau ……… (afwan, ga kedengeran jadi ga tahu apa. Mgkn abaikan atau acuhkan)

Tahukah kau siapa dia
Jangan kau ukur dia dengan sedikitnya harta
Atau dengan tak gagahnya raga
Setelah meng-esa, sholat lima waktu dan puasa
Dialah jalanmu menuju surga

Jika kau laksanakan pesanku ini putri tercinta
Bahagialah dikau di dunia dan
Pilihlah pintu surga mana yang kau suka

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Dekati DIA

Mutiara Syair Radio Fajri 99.3 FM

http://www.fajrifm.com

 

Dekati Dia

Sadarilah wahai manusia

Kau diciptakan sebagai hamba sahaya

Untuk Sang Pencipta jagad raya

Alloh yang Maha Esa

Jangan sekejap kau jauh dari-Nya

Kau takkan mungkin hidup tanpa-Nya

Kau tak mungkin bahagia di dunia dan sesudahnya tanpa rahmat dari-Nya

 

Demikian telah bermurah-Nya Dia

Membujuk hamba sahaya-Nya

Agar tunduk kepada-Nya

Bukan karena Dia butuh hamba-Nya

Tapi hanya karena itulah jalan satu-satunya

Agar mereka selamat dari neraka dan bahagia di surga-Nya

Dialah yang Maha Perkasa

Tak butuh siapapun juga

Sedang semua membutuhkan-Nya

 

Dekati Dia

Dekati Dia

Kau kan mulia

Jangan sampai dunia, harta dan jumawa

Memalingkanmu dari-Nya

Kau takkan kekal hidup di dunia

 

Tak lama lagi ajal akan datang menjelang

Sembah sujudlah kepada-Nya

Agungkanlah nama-Nya

Banyakkan menyebut-Nya

Cintailah Dia

Mintalah ampunan-Nya

Bacalah ayat-ayat suci-Nya

Berhaus dahagalah untuk-Nya

Di hari terik membakar dunia

 

Berserah dirilah kepada-Nya

Jadikan Dia harapanmu satu-satunya

Keluhkan keluhanmu hanya kepada-Nya

Jadikan Dia tempat mengadu derita

Pasti kau takkan kecewa

Dia Maha Kuasa atas segalanya

 

Jika kau telah dekat dengan-Nya

Dia kan membelai semua luka

Dia kan mengampuni semua dosa

Menjagamu dari mara bahaya

Menyembuhkan sakitmu jiwa dan raga         

Menghilangkan semua pedih kau rasa

Melapangkan sesak di dalam dada

Meluaskan kesempitan harta dan benda

Memberkahi seluruh keluarga

 

Itu semua baru di dunia

Sedang nanti di alam sana

Kau kan dimasukkan ke dalam surga

Bertetangga dengan-Nya

Bahagia, sentosa selamanya

 

Dekati Dia

Jangan menjauh dari-Nya

Jauh dari-Nya adalah derita

Gersanglah hidupmu jika kau jauh dari-Nya

Risau, gundah, gelisah kan berdesakan di dalam dada

Pohon-pohon derita tumbuh subur di harta, keluarga, jiwa dan raga

Dan di alam sana

Puncak semua derita

Tak lama lagi kan kau rasa

 

Merenunglah di malam yang sunyi seorang diri

Bacalah peta hidupmu selama ini

Apakah telah kau dapati bahagia di lubuk hati

Bukankah kau takkan kekal di dunia ini

Ajal kan datang tak lama lagi

Apakah arti hidup ini jika tak ada hidup setelah mati

Hidup itulah hidup abadi

Siapkan dirimu untuk memasukinya nanti

 

Jangan tertipu oleh banyaknya harta

Hartamu takkan mampu mendera derita

Di dunia dan di sana

Jangan kau kejar tuntutan jiwa

Lautan asmara takkan memberimu bahagia

 

Bahagia hanya ada didekat-Nya

Hanya Dialah Pemberi Bahagia

Bebaskan jiwamu dari tali-tali setan durjana

Penjanji dusta pemalsu bahagia

 

 

Kembalilah kepada-Nya

Tuhan yang Maha Esa

Lintasi semua kendala

Dekatilah Dia

Jangan ragu wahai sahaya

Kau hanya seorang budak dunia yang nista jika kau menjauhi-Nya

Dekati dia

Niscaya kau kan mulia, bahagia, sentosa selama-lamanya

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

DIA (Alloh Itu Ada)

Mutiara Syair
Radio Fajri 99.3 FM
http://www.fajrifm.com

Dia ada tanpa mula
Ada sebelum segalanya ada
Ada tanpa pengada
Bertahta diatas singgasana mulia indah tiada tara
Dipuncak ketinggian tertinggi tiada hingga
Agung suci dan sempurna

Tak diputra dan tak berputra
Tak ada lupa, tak ada alpa
Tak ada awalnya, tak ada akhirnya
Mengetahui yang telah ternyata dan yang akan ternyata

Tak ada daun gugur yang tak diketahui-Nya
Butir-butir hujan tahu letaknya
Butir-butir pasir tahu tempatnya
Menentukan segalanya dan menuliskannya

Mencipta jagad raya di hari-hari siktah
Membangun langit membola tanpa tiang di mata
Menghiasinya dengan bintang-bintang bak permata
Menghampar bumi nan hijau jelita
Menghias gurun dengan pasir pirang ceria
Mengisi lautan nan kaya raya dengan mutiara, intan dan permata

Gagah perkasa tak terkalahkan
Maha sempurna tak tercelakan
Semua kehendak-Nya pastilah terlaksana
Maha Sanggup dan Maha Kuasa
Tak satupun menyamai diri-Nya

Mendengar langkah serangga dari atas singgasana-Nya
Melihat jemari semut hitam di malam gelap gulita
Mendengar detak jantung dan desir darah makhluk-Nya
Mengetahui apa-apa di dalam dada, yang gaib dan yang nyata
Mengurus seluruh makhluk-Nya di bumi, laut dan udara

Semua membutuhkan-Nya dan Dia tak butuh siapapun juga
Menghidupkan dan mematikan
Mengkayakan dan memiskinkan
Memuliakan dan menghinakan
Di semua itu tak ada sekutu bagi-Nya
Bahkan di segala-galanya
Di segala-galanya, di segala-galanya
Tak ada sekutu bagi-Nya

Maha Penyantun lagi Penyayang pint
Pemberi makan siang dan malam
Walaupun mereka terus membangkang
Menjaga mereka pgi dan petang
Mengampuni dosa semua hamba
Menyembuhkan mereka jiwa dan raga
Memberi apa yang dipinta dan apa yang tak dipinta

Maha Sabar atas hamba-hambaNya
Walau air susu dibalas air tuba
Walau karunia dibayar dosa
Tapi jangan kau salah sangka
Itu bukan karena lemah-Nya
Semua karena Dia Maha KArunia

Jika marah-Nya telah membara
Siksa-Nya pedih tiada terkira
Jangan coba bermain api murka-NYa
Agar kau tak tersiksa di dunia dan di neraka

Dikala sang hamba tak peduli
Tak ada sholat tak ada zakat
Kepada orang tua tak berbakti
Qur’anpun tak dikaji
Puasapun tak dilakoni
Banyak uang tak pergi haji
Halal dan haram tak peduli
Tak berbeda sama sekali
Uang riba, judian hasil atau curian hasil korupsi
Yang penting pundi terisi
Itulah saatnya siksa dunia din anti

Adapun di akhirat nanti
Jika ampunan tak diberi
Siksa yang pedih tak terperi
Api hitam terbakar ribuan tahun tak pernah mati
Melelehkan gunung, baja dan besi
Daging yang tumbuh dari yang keji
Dengan nyala akan dicuci

Pohon zaqqum, pohon zaqqum
Terkutuk menyayat rongga dada
Mendidih di perut pemakannya
Melebur tulang-belulang tak menyisakannya
Penampilannya seakan kepala-kepala setan durhaka

Zaqar adalah sumur yang maha dalam di neraka
Penuh dengan api tak terkira
Peninggal sholat, di sinilah tempatnya
Tapi tetaplah Dia Maha Pengampun lagi Penyayang
Mengampuni semua dosa
Selain dosa menduakan-Nya
Siksanya pun hanya untuk kaum durhaka
Mendustakan nabi dan berpaling darinya

Surga-Nya seluas jagad raya
Surga abadi negeri bahagia
Penghuninya bak raja-raja
Di istana terbuat dari emas, perak dan mutiara
Sungai-sungainya air yang jernih, madu dan susu manis terasa
Burung-burung beterbangan menawarkan dirinya
Untuk disantap oleh raja istana
Pohon-pohon nan rindang berbuah lezat luar biasa
Awan yang anggun menghujankan yang dipinta dan yang dicita

Panorama indah, aneka warna dan aroma
Para penghuninya sangat mempesona
Suami tampan gagah perkasa di 33 istri-istri juwita yang melebihi bidadari juwita
Bidadari rupawan bagaikan intan permata
Selamanya tetap seorang dara
Selamanya muda takkan pernah menua

Para sahaya, anak-anak kekal bertebaran bak mutiara
Tak ada caci, tak ada cerca
Yang berkata hanya, “salaman, salaman”
Tak ada duka, tak ada derita
Yang ada hanya bahagia, bahagia

Pada puncaknya
Datanglah Sang Maha Esa
Di setiap awaktu yang dikehendaki-Nya
Menjenguk hamba-hambaNya yang setia
Di pesta cahaya dan singgasana
Memberi salam pertanda cinta
Berjanji takkan murka selamanya
Menyingkap selendang tabir keangkuhan-Nya
Menampakkan wajah nan indah mempesona

Keagungan di atas keagungan, di atas keagungan
Memberi pemandangan bahagia tiada tara

Bahagia diatas bahagia, diatas seluruh bahagia
Hidup abadi, bahagia selamanya

Posted by: Winda Safitri | June 8, 2013

Ketika Akhwat Jatuh Cinta

Renungan Inspiratif

Radio fajri 99.3 FM                                                                                                                                                                             oleh Ummu Sa’ad


Akhwat jatuh cinta?

Tidak ada yang aneh, mereka juga manusia

Bukankah cinta adalah fitrah manusia?

Tak pantaskah akhwat jatuh cinta?

Mereka juga punya hati dan rasa

 

Tetapi, tahukah kalian

Betapa berbedanya mereka

Saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya

Tidak ada senyum bahagia

Tidak ada rona malu di wajah

Tidak ada buncah suka di dada

 

Namun sebaliknya,

Ketika akhwat jatuh cinta

Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat

Atas sebuah hijab yang tersingkap

 

Ketika lelaki yang tidak halal baginya bergelayut dalam alam pikirannya

Yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar

Akan cinta yang tak suci lagi

 

Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya

Yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih

Akan sebuah asa yang tak semestinya

 

Tak ada senyum bahagia

Tak ada rona malu

Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi airmata penuh penyesalan

Atas cintanya yang ternodai

Yang ada adalah kegelisahan karena rasa yang salah arah

Yang adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit

 

Ketika akhwat jatuh cinta

Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan

Tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut

Tidak ada kata-kata cinta dan rayu

Yang ada, yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat

Akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal

Atau bahkan tak akan pernah halal baginya

 

Ketika mereka jatuh cinta

Maka perhatikanlah kegelisahan di hati

Yang tak mampu lagi memberinya ketenangan di wajahnya yang dulu teduh

Mereka akan terus mematikan rasa itu

Bagaimanapun caranya

Bahkan kendati harus menghilang

Maka itu pun akan mereka lakukan

 

Alangkah kasihannya jika akhwat jatuh cinta

Karena yang ada adalah penderitaan

Tetapi ukhti, bersabarlah

Jadikan ini urusan dari Robb-mu

Matikan rasa itu

Matikan secepatnya

 

Pasang tembok pembatas antara kau dan dia

Pasang duri dalam hatimu agar rasa itu tak tumbuh bersemai

Cuci dengan air mata penyesalan atas hijab yang tersingkap

 

Putar balik kemudi hatimu

Agar rasa itu tetap terarah pada-Nya

Pupuskan rasa rindu padanya

Dan kembalikan pada hatimu rasa rindu pada Robb-mu

 

Ukhti, jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya

Karena bila memang kalian ditakdirkan bersama

Maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu

Tapi ketahuilah,

Bagaimanapun usaha kalian untuk bersatu

Jika Alloh tidak menghendakinya

Maka tidak akan pernah kalian bersatu

 

Ukhti, bersabarlah

Biarkan Alloh yang mengaturnya

Maka yakinlah, semua akan baik-baik saja

Posted by: Winda Safitri | June 3, 2013

Dakwah

Dakwah

lupa dari majalah apa

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

Cahaya Qur'ani

Hidup Damai Bersama Al-Quran

Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

Islam, Rumaysho, Salafi, Ahlus Sunnah, Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Muslim

astralarasati

JustMyLife.com site